Retail Intermezzo

Selamat Malam ...

"Memainkan Permainan Sendiri"

Hampir sebagian besar pelaku bisnis retail saat ini, berusaha memberikan layanan untuk semua segmen konsumen setiap saat & disemua tempat. Alih-alih menggunakan konsep one stop shopping, sering kita mengamati dalam perjalanannya menjadi tidak focus bahkan tidak bergerak sama sekali baik dari penjualan, bahkan hanya memunculkan tambahan biaya bagi perusahaan retail tersebut.

Perusahaan retail tersebut, berusaha menjadi segala sesuatu bagi semua konsumennya dan mencoba bersaing melawan setiap pemain retail lainnya. Dan seringkali fatal.

Banyak contoh bisa kita lihat & diskusikan....

Beberapa kutipan-kutipan yang mungkin relevan dengan kondisi diatas :

  • Jangan mencoba menjadi semuanya untuk semua konsumen, karena yang terjadi malah tidak terjadi apa-apa untuk siapapun.
  • Jangan melawan perusahaan yang jelas-jelas punya keuntungan kompetitif & kekuatan keuangan  yang jelas-jelas akan menggilas kita.
  • Carilah ruang-ruang kosong atau celah-celah bisnis & siapkan dengan baik untuk mengambil celah kosong yang semua pemain mengabaikannya
  • Cari tau apa yang dibutuhkan untuk menguasai celah bisnis tersebut. Halangan apa yang mencegah pemain lain masuk ke celah bisnis sesudah anda masuk.
  • Akan selalu ada pesaing yang mampu & berani menawarkan harga yang lebih murah ketimbang harga yang anda tawarkan. Pikirkanlah cara menangkalnya tanpa mengorbankan keuntungan anda.
" Mengalahkan Lawan Dikandangnya "

Pada awal boomingnya bisnis retail, dimana pemain2 retail baru bermunculan, ada satu pertanyaan menarik yang sering saya sampaikan adalah : Bagaimana mengalahkan lawan di kandangnya sendiri. Pemain retail baru mulai Indomaret, Alfamart, Giant, Hypermart, Lion Superindo sd lotte mart bermunculan hampir di semua wilayah dengan sangat cepatnya. Pemain2 lama yang pada awalnya cukup "nyaman" menitmati kue yang sangat besar, lama kelamaan mulai berpikir & menata ulang arah bisnisnya. 

Sebagai contoh pada era awal tahun 2000 an ... di wilayah tangerang berdiri sebuah supermarket yang sangat kuat yang bernama "sabar subur". Di wilayah tengah jakarta ada yang namanya "tip top" dan di wilayah timur ada yang namanya " Naga Swalayan". Sampai saat ini pemain2 tersebut masih eksis walau brand mereka lama kelamaan mulai tidak terdengar lagi walau bukan berarti mati. 

Kalau di wilayah Jawa Barat, maka kita pasti mengenal group retail " Jogja Group ", dan beberapa pemain yang lebih kecil seperti Borma Swalayan. Di Jawa Tengah, siapa yang tidak mengenal Ratu Swalayan, Sami Luwes Group, Ada Swalayan, Moro di purwokerto dll. 

Hanya pemain baru yang di dukung oleh keuntungan kompetitip & kekuatan dana yang besar yang bisa mengalahkan pemain-pemain retail lokal yang kuat di kandangnya sendiri. 


" Melatih & Mendidik "

Dalam dunia retail, seringkali pimpinan perusahaan masih bias antara "melatih" & " mendidik "
Contoh sederhana misalnya :

  • Banyak orang tua yang melatih anaknya untuk menggunakan toilet. Pelatihan diberikan berdasarkan pengalaman orang tuanya sendiri. Bagaimana membuka penutup toilet duduk, kemudian duduk, dan menyiramnya jika sudah selesai. Hanya itu
  • Bagi orang tua yang mendidik anaknya menggunakan toilet maka akan lebih dari itu. Mungkin pertama kali bagaimana cara menggunakannya, kenapa tutupnya harus dibuka & ditutup setelah selesai, kenapa harus di siram, bagaimana cara membersihkannya dan alat atau cairan apa yang digunakan untuk membersihkannya  dll ....
Pelatihan lebih kepada reaksi jika terjadi sesuatu & seringkali terbatas pada pengalaman2 pemimpinnya. Sedangkan mendidik, akan memaksa anak didik kita untuk tau permasalahannya dan tau menganalisa dan mencari2 solusinya.  Jadi didiklah karyawan anda, lebih dari sekedar dilatih





0 komentar:

Poskan Komentar

Viewer

Diberdayakan oleh Blogger.