RETAIL DALAM SECANGKIR KOPI

Jakarta, 21 Juni 2014

Kembali dalam sebuah obrolan sambil ditemani beberapa cangkir kopi dan ketela rebus ala thailand (katanya), ditaburi saos manis dan potongan2 kecil buah mangga. Karena kami yang sedang duduk sambil bercerita kesana kemari, adalah bekas sekumpulan pekerja di dunia retail ( FMCG maupun dept store ) maka obrolan kami tidak jauh-jauh dari dunia usaha retail. Dari beberapa topik yang kami obrolkan saya mencoba menuliskannya dengan penuh sukacita ...


  1. Kopi ke 1 : Ibarat sebuah benang yang di pegang ujung2nya
    • Peganglah sebuah benang senar untuk mancing, peganglah kedua ujungnya. Kemudian getarkan salah satu ujung benang senar tsb, kemudian apa yang kita lihat dan rasakan. Maka yang kita lihat adalah ketika salah satu ujung benang senar di gerakan, menimbulkan gelombang yang tergantung kuat tidaknya kita menggerakan ujung tadi dan sampailah getaran dan gelombang tsb di ujung benang senar satunya lagi.
    • Makna obrolan diatas adalah : Dalam dunia retail khususnya FMCG dan business retail umumnya, maka apapun yang dilakukan salah satu bagian, pasti akan berdampak kepada bagian lainnya, entah itu di sadari atau tidak, tapi pasti bisa rasakan bahkan sampai ke ujung tujuan perusahaan.
    • Salah satu dari kami, memberikan contoh "seberapa besar target pembelian kita ke supplier" Jika bagian commercial mempunyai target pembelian 1 (satu) Milyar kepada supplier, maka gelombang getarannya akan berdampak kepada bagian Logistic & Distribusi, mengenai kapasitas penyimpanan di gudang butuh space seberapa besar, kemudian muncul hal lain, berapa lama akan habis barang tsb, ada potensi rusak atau tidak selama periode penyimpanan sd terkirim ke end user, berapa biaya penyimpanan dibanding hasil yang di peroleh oleh bagian commercial. Getaran berikutnya merambat kepada bagian Finance/keuangan, kapan jatuh temponya, pada saat jatuh tempo pembelian tersebut, bagaimana cash in perusahaan, mencukupi atau tidak ... getaran lain akan muncul ke bagian2 lainnya .. bagian operational akan bereaksi kepada bagian logistic, kebutuhan kami di toko tidak sebesar ini, jangan kirim banyak2 dst .. dst .. dst ..
    • KESIMPULAN ... Sebelum salah satu bagian mengambil keputusan2 strategis .. pastikan bagian ini memikirkan dampaknya kepada bagian lain dalam sebuah perusahaan retail. Pastikan keputusan strategis ini di komunikasikan kepada bagian lain yang terkena dampaknya, mintakan opini yang positip akan keuntungan dari keputusan strategis yang diambil ini. Bagaimana jika reaksi bagian lain selalu negatip, menurut obrolan ini maka pastikan keuntungan dari keputusan strategis ini lebih besar daripada biaya yang muncul, bukan dari sisi repotnya tapi dari sisi keuntungan perusahaan secara total. Kerepotan yang muncul pada bagian yang lain ada konskwensi dari dan untuk tercapainya optimal profit bagi perusahaan.
  2. Kopi ke 2 : Agamamu adalah Agamamu, Agamaku adalah Agamaku - Dilema Konsep " Balance Score Card"
Pengalaman salah satu dari kami akan penerapan program BSC " Balance Score Card " sungguh membuat kami bengong & terhenyak. Saya menggambarkan dalam sebuah ungkapan diatas "agamamu adalah agamamu & agamaku adalah agamaku"
    • Ketika pimpinan sebuah perusahaan menetapkan target per masing-masing bagian dalam sebuah perusahaan retail atau jenis usaha lainnya, dan menetapkan target per masing-masing bagian yang di sebut BSC ini, maka muncul aksi dan reaksi yang seringkali tidak sesuai dengan harapan. Terkait dengan kasus no1 diatas, jika salah satu bagian mengambil keputusan strategis yang berdampak significant kepada pencapaian targetnya atau supaya BSC nya bagus, maka bagian tersebut akan mati2an meyakinkan semua pihak bahwa itu benar. Kemudian muncul reaksi atas dampak keputusan strategis tsb dari bagian lain yang akan terpengaruh atas keputusan bagian lain tsb. Mulailah terjadi komunikasi negatip sampai kepada eksekusi negatip dari masing2 bagian lain untuk mempertahankan keputusan tsb demi yang namanya BSC ini.
    • Kenapa begitu besarnya reaksi bisa muncul, karena BSC saat ini dijadikan dasar memberikan "reward" apakah dalam bentuk kenaikan gaji atau bonus. Demi hal ini maka masing2 bagian akan tetap dan berusaha mempertahankan performance BSC mereka untuk stay in track to get the BONUS he he yang terkadang akan merugikan perusahaan secara total.
    • Dari obrolan kami pada gelas kopi kedua, kami mencoba berbagi bahwa BSC tidak jelek tapi bisa tidak efektip. Rasanya bijak sekali ucapan salah satu dari kami tersebut. Peranan Pimpinan tertinggi sebagai hakim untuk memberikan evaluasi dan solusi atas aksi & reaksi dari sebuah keputusan strategies yang berdampak kepada BSC masing2 bagian. Kepentingan Perusahaan baik dalam hal profit & loss serta company position in the market pada akhirnya harus menjadi prioritas pertama dibanding BSC masing2 bagian. Bagaimana pimpinan perusahaan menjadi "Juri" yang adil di lapangan shg akhir permainan berjalan baik & benar. 
    • Tanpa BSC atau target per masing-masing divisi juga tidak baik, karena tidak ada panduan arah mana yang harus di tuju, tapi yang terlebih penting, tercapai tujuan / goals dari perusahaan tsb
Tanpa terasa obrolan kami memasuki topik yang sedang "in update" saat ini ... tapi kami sepakat berhenti pada cangkir kopi ke 2
JOKOWIDODO VS PRABOWO
    • Diantara kami tidak membicarakan memihak kepada partai apa atau capres yang mana. Di usia kami, masing2 diantara kami cukup paham bahwa pilihan masing2 pribadi adalah hak khusus yang tidak bisa diganggu gugat.
    • Yang kami bahas tentunya adalah banyak sekali "teaser" atau ejekan2, olok2 atau informasi yang sifatnya "dangkal" yang disampaikan baik oleh individu maupun media2 online saat ini. Teaser bisa sangat menganggu dan mempengaruhi seseorang mengambil keputusan. Bukan kepada pemahaman yang mendalam  akan apa dan siapa dan bagaimana nantinya. Sebagian besar dari kami juga harus mengaku masih sering terjebak oleh "teaser" atau informasi2 dangkal yang bertebaran di media2 bukan kepada "insight" atau pemahaman yang mendalam atas sebuah persoalan.
    • Demikian juga dalam dunia retail ... seringkali banyak professional mengambil keputusan yang di pengaruhi oleh "teaser" atau informasi2 dangkal yang seringkali merupakan informasi yang yang menyatakan sebuah kegagalan dibanding mengambil keputusan konprehensif dengan mempertimbangkan semua aspek. 
    • Sbg Contoh : penjualan sebuah toko menurun tajam, ada informasi karena barangnya kosong. Maka reaksi kita mengambil keputusan kirim barang sebanyak2nya. hasilnya ternyata tetap jelek salesnya, karena masalahnya besarnya bukan hanya itu saja, ternyata sales person yang jelek, shg permintaan barangnya banyak salah dan tentunya barang menjadi kosong. 
    • Itulah "teaser" & " Insight" terkait capres

Selamat Pagi, Have a Nice Weekend

0 komentar:

Poskan Komentar

Viewer

Diberdayakan oleh Blogger.