INDONESIA RETAIL - TRADITIONAL YANG MODERN

TRADITIONAL YANG MODERN
(Catatan Kompas, minggu 30 september 2012 - Geliat Sanshui - Kota Nan Sunyi)

Membaca harian kompas, edisi minggu 30 september 2012 yang menggambarkan kehidupan sebuah kota kecil di negeri tirai bambu - China.  Kota seluas 874 km2 dan berpenduduk 440 ribu jiwa ini ( Jakarta luas 661 km2 dan berpenduduk hampir 9 juta jiwa) adalah sebuah kota kecil di propinsi Ghuandong.

Saya tertarik dengan catatan kompas khususnya harmonisasi pasar traditional dengan pasar modern atau retailer traditional vs modern. Disini di gambarkan di trotoar2 pusat perbelanjaan modern, masih banyak di temukan pedagang tradisional menjajakan  dagangannya seperti aneka sayur bahkan sampai berjualan unggas kepada para pengunjung pusat perbelanjaan tersebut. Hanya saja perbedaannya adalah para retailer tradisional di sana diberikan ruang publik tertentu untuk bisa hidup tetapi dengan penataan yang rapi. Mereka mempunyai lapak yang tertata rapi, bersih dan kering. Sehingga kehadiran pedagang traditional tersebut tidak mengurangi kenyamanan pengunjung dan lalulintas jalanan. Selain itu, pemerintah kota menyediakan ruang publik yang memadai seperti taman kota untuk berbagai macam aktivitas warga mulai dari berkeseniam, olah raga dan berdagang.

Saya mencoba searching di web " sanshui city china" dimana disebutkan kota ini merupakan pensupply penting bagi Guandhong area bahkan sampai hongkong untuk supply buah, dan penghasil soft drink berbasis jeruk dan madu.  Dari beberapa web, memang saya tidak temukan secara spesifik mengenai kehidupan traditional retailer dan modern retailer dalam economic preview. Tapi kalau mencoba membayangkan tulisan kompas diatas kemungkinan beberapa faktor yang membangun harmonisasi retailer traditional dan Modern Retailer yaitu :

  • Peraturan yang jelas dan tegas dari government / pemerintah kota
  • Kontrol atas pelanggaran dan sanksi yang jelas
  • Culture & budaya masyarakat yang taat peraturan dan kesadaran yang tinggi dalam pelaksanaanya
  • Infrastruktur yang baik dan mendukung
  • Semangat yang sama dalam memajukan perekonomian usaha mikro dan makro (win-win)
Di Indonesia, kalau kita cermati secara global dengan fluralistik masyarakat yang lebih kompleks bukan dari segi jumlah penduduk. Penduduk total China adalah yang terbesar di Dunia. Pertanyaan yang selalu tidak mendapatkan jawaban adalah " Kenapa mereka bisa, Indonesia tidak"
Kita mesti telaah satu persatu dari setiap persoalan dalam penataan pasar modern dan tradisional, sehingga jangan yang terjadi hanya wacana dan konplik tanpa ada penyelesaian yang jelas.

  • Peraturan atau Undang-Undang yang mengatur kehidupan retailer tradisional dan modern masih sangat tidak jelas, lebih kepada pembatasan2 expansi pasar modern tanpa ada peraturan2 yang mencoba mensinkronkan kedua sisi tersebut sehingga bisa hidup berdampingan tanpa perlu konplik yang tidak perlu. Peraturan seringkali tidak memberikan solusi menyeluruh hanya bersifat sporadis dan bagian per bagian semata. Anehnya peraturan akan dibuat pada saat setelah terjadi kekacauan bukan bersifat preventif.
  • Kontrol yang lemah dan penerapan sanksi yang tidak jelas juga menjadi pemicu. Kenapa lemah, karena setiap peraturan yang dibuat selalu disiapkan celah2 untuk bernegosiasi, maaf kalau saya katakan celah2 tersebutlah akan menjadi ladang korupsi.
  • Bicara budaya masyarakat Indonesia, saya melihat tidak kalah beradabnya dengan bangsa manapun di dunia. Tapi budaya kita yang adiluhung hanya kenangan masa lalu apalagi di masyarakat perkotaan. Kenapa budaya adiluhung kita hilang atau meredup, karena peraturan2 dan kontrol dari yang berwenang sangat lemah, sehingga segala bentuk penyimpangan selalu di tolerasi kalau ada sebuah konpensasi.
  • Infrastruktur di Indonesia adalah yang sangat parah. Pembangunan oleh satu departement jarang bahkan tidak ada koordinasi dengan departemen yang lainnya. hari ini gali oleh PAM ( perusahaan air minum milik negara), besoknya di gali lagi oleh Telkom besoknya di gali oleh PU (Pekerjaan Umum) entah besoknya di gali siapa lagi??. Trotoar jadi tempat mangkal angkot, 
  • Ruang publik di Jakarta bahkan di kota2 lainnya sangat sedikit bahkan bisa di katakan tidak ada. Jikalau ada misal di daerah yang kita kenal dengan nama ALUN-ALUN KOTA, dengan kontrol yang tidak jelas bisa berubah menjadi pasar malam dan tempat nongkrong preman, sehingga fungsinya berubah. Lagi2 karena tidak ada tindakan tegas, bagaimana bisa tegas kalau mereka bayar untuk bisa jualan, nongkrong dll kepada oknum2 tertentu. 
Jika ingin menemukan harmonisasi  Traditional retailer dan modern retailer, mungkin kelima hal diatas harus dibedah satu persatu dan di carikan solusi yang konprehensif dari semua pihak yang terkait kemudian secara jelas dan tegas di kontrol pelaksanaanya.

Semoga !!!




0 komentar:

Poskan Komentar

Viewer

Diberdayakan oleh Blogger.