INDONESIAN RETAIL - HOW TO DEVELOP TRADITIONAL RETAILER

HOW TO DEVELOP TRADITIONAL RETAILER
Sebuah pertanyaan yang sampai sekarang masih menjadi dilema dalam bisnis retail di Indonesia. Bagaimana kita bisa membantu para pelaku bisnis retail yang masih traditional ( Traditional Retailer ) untuk dapat bersaing dengan modern retailer. Bagaimana pedagang traditional bisa bersaing dengan indomaret, alfamart, lion superindo, carrefour dll, maupun format bisnis retail lainnya.
Beberapa kendala pelaku retail traditional kalau kita amati ada beberapa :
  1. Assortment product
  2. Supply product
  3. Struktur permodalan
  4. Management Keuangan
Assortment Product
Jika kita amati, banyak sekali product yang di jual di warung2 rumahan, kios2 adalah product yang tidak sesuai dengan pasar atau marketnya. Prakteknya di lapangan, canvaser atau orang dari perusahaan atau distributor melakukan penetrasi tanpa mempedulikan apakah cocok untuk konsumen dimana retailer traditional tsb berada. Kesalahan assortment ini tentunya akan berpengaruh pada permodalan mereka. Semakin banyak barang yang tidak bergerak/tidak terjual, maka semakin mengurangi modal kerja mereka. Ini salah siapa? apalagi kalau mereka tidak mau jual product tidak laku tersebut, maka mereka mungkin tidak akan di kirim product yang laku dari supplier yang sama.
Ini salah siapa? --> Kalau kita meminta supplier/distributor untuk melakukan perbaikan ini sudah pasti tidak bisa, karena dari sudut pandang supplier, mereka produksi barang maka bagaimana caranya bisa terpajang terlebih dahulu dan tentunya di harapkan bisa terjual. Tapi itu menjadi kendalan bagi retailer traditional dgn modal yang terbatas dan bargaining power yang rendah.

Supply Product
Supply akan product yang akan mereka jual, hanya mengandalkan dua saluran yaitu penawaran dari distributor dgn pasukan canvas mereka & Mencari sendiri barang yang mereka butuhkan.
Jika cermati yang pertama adalah droping product dari distributor. Retailer tradisional maksimum diberikan TOP ( Term Of Payment) atau jangka waktu bayar maksimal 7 hari. Bagi retailer modern, TPO 7 hari dianggap sama dengan pembelian cash, dan sangat jarang sekali modern retailer berskala jaringan mau menerima TOP sependek itu kecuali untuk supplier2 yang posisi productnya sangat kuat dan tidak tergantikan oleh supplier lainnya. Dari sisi ini saja, kita melihat betapa lemahnya posisi traditional retailer tsb. Jika mereka tidak bayar, maka supplier/distributor akan mengenal apa yang disebut bad debt atau kegagalan collection.
Sedangkan jika mereka mencari barang sendiri, maka mereka akan keluar biaya tambahan yaitu biaya transportasi shg harga barang mereka menjadi lebih mahal. Merekapun rata2 belinya di modern retail sehingga sudah pasti harga mereka jauh diatas modern retailer. Bagaimana mereka bisa bersaing, kalau beli productnya di modern retail?.

Struktur Permodalan
Dari sisi permodalan sudah pasti retailer traditional sangat terbatas. Hal ini tentunya akan menyulitkan mereka dalam mengembangkan usahanya. Dan kita tidak perlu membahas struktur permodalan modern retailer yang rata2 berupa jaringan dan tingkat expansi yang luar biasa. Peranan perbankan pun sampai saat ini masih separo hati dalam membantu UKM atau pedagang kecil ini. Tidak salah memang karena faktor resiko ketidakmampuan bayarnya juga cukup tinggi.

Management Keuangan
Rata2 traditional retailer, tidal bisa memisahkan mana modal kerja dan mana dana untuk kepentingan pribadi. Jika mereka butuh uang untuk keluarga maka mereka tinggal ambil uang dari hasil penjualan toko atau kiosnya. Tentunya semakin lama semakin berkuran modal kerja mereka.

Kendala-kendala diatas tentunya membutuhkan solusi2 nyata dari semua pihak. Siapa yang bertanggung jawab secara langsung dan tidak langsung. Dan bagaimana membangun solusi dari setiap persoalan diatas. Mari kita renungkan saja, MUNGKIN SOLUSINYA KITA BISA SAMPAIKAN, tetapi mengeksekusi solusi tersebut mungkin harus ada sebuah keputusan besar baik dari pemerintah, supplier dan pihak2 terkait lainnya, sehingga merekapun bisa hidup dan bertumbuh dengan baik.
Suatu saat kita akan melihat sebuah perusahaan yang bergaya " SOCIAL ENTERPRISE" yang akan membantu mereka untuk bertumbuh dan siap bersaing dengan modern retail. SEMOGA



0 komentar:

Poskan Komentar

Viewer

Diberdayakan oleh Blogger.